Today is wonderful!

Orang yang tak pernah membuat kesalahan, maka tak akan pernah mencoba sesuatu yang baru." - Albert Einstein

Today you will be success!

Orang-orang yang ada di sekitarmu dapat dijadikan inspirasi, atau bahkan menguras tenagamu. Jadi, pilihlah secara baik-baik."Hans F. Hanson

Today I want to around the world!

"Kamu tidak akan pernah bisa kehabisan kreativitas. Semakin kamu menggunakannya, semakin banyak yang kamu miliki." - Maya Angelou

Today i will meet you in romantic place!

"Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka." - Walt Disney

Today I will come to BTS concert!

"Jangan ragu untuk membuang apa yang tidak kau perlukan" Florist in RUN BTS ep. 98

Tampilkan postingan dengan label Petuah Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petuah Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

Pengabdian Wanita.....

Wanita terkadang agak bodoh, demi laki-laki yang ia cintai, ia rela meninggalkan orangtuanya
untuk menjaga orangtua laki-laki yang dicintainya, sedangkan laki-laki tidak perlu begitu...
Wanita terkadang agak bodoh, demi laki-laki yang ia cintai rela menanggung penderitaan selama
10 bulan hanya demi memberikan generasi penerus marga sang lelaki, selain itu harus
menghadapi perubahan fisik pasca melahirkan anak, sedangkan laki-laki tidak....

Wanita terkadang agak bodoh, demi laki-laki yang ia cintai, ia meninggalkan pria-pria baik yang
mencintainya, hanya untuk bisa selalu bersama dengan laki-laki yang ia cintai sehingga masa
mudanya yang indah terkubur begitu saja ; tapi pria tak perlu takut kehilangan masa mudanya,
karna pria makin tua makin berharga....

Wanita terkadang agak bodoh, demi mencintai seorang pria, ia melepaskan marga yang diberikan
orangtuanya selama 20 th lebih hanya untuk mengikuti marga sang suami dan dipanggil "Nyonya",
tapi pria tidak begitu....

Wanita terkadang agak bodoh, demi pria yang ia cintai, pagi pergi kerja, pulangnya harus
mengerjakan pekerjaan rumah, memasak dan jaga anak, harus menghadapi tekanan dalam dunia
kerja dan rumah tangga ; tapi pria tidak begitu, pria malah beruntung mendapatkan orang yang
bisa menambah penghasilan keluarga sekaligus pembantu yang tak perlu digaji.....

Wanita terkadang agak bodoh, demi pria yang ia cintai, bersedia untuk beradaptasi dengan
keluarga baru dan menghadapi kritikan sanak saudara pihak laki-laki, saat wanita berusaha untuk
mendapatkan perlindungan dari pria, yang terjadi adalah... pria bukannya melindungi wanitanya,
melainkan bersama yang lain menjatuhkan wanitanya, sehingga wanita terpojok dan tak
berdaya.....

Wahai pria! Jika di sisimu ada seorang wanita bodoh, cobalah menjadi pria bodoh bagi wanitamu,
sayangi dan jagalah dia dengan baik. Jangan lupa, ia bukan dilahirkan untuk menjaga keluargamu.
Wanita sangat polos dan berbudi pekerti, asalkan pada saat ia terluka kamu mau mendengarkan
keluhannya, mendukungnya, melindunginya dan menghapus air matanya, maka ia akan selalu
mengingatnya.....

Dan jangan lupa, pada saat Anda (para pria)sudah tua dan sakit, orang yang akan menjagamu
pastinya bukan orangtua Anda yang sudah tua, kemungkinan terbesar yang akan menjagamu dari
muda hingga tua adalah wanita yang selalu berada di sisimu. Kaum wanita, apakah kalian setuju?
Kaum pria, apakah kalian menghargainya..

Tolong Hargailah Para Wanita......!!!!

ketika TUHAN Menciptakan wanita , DIA lembur pada hari ke-6. Malaikat datang dan bertanya ”
Mengapa Begitu lama TUHAN? TUHAN menjawab “Sudah kah engkau liat semua detail yg AKU
buat untuk menciptakan mereka?”
2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dr plastik.Setidaknya terdiri dari 200
bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan.Mampu menjaga
banyak anak saat bersamaan,punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan
keterpurukan. .dan semua dilakukannya dengan 2 tangan ini....
Malaikat itu Takjub..” Hanya dengan 2 tangan?…impossible!!

Oh…Tidak!! AKU akan menyelesaikan ciptaan hari ini,karena ini adalah ciptaan favoritKU. “Oh
ya…dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja selama 18 jam
sehari.....
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan TUHAN itu. “Tapi Engkau membuatnya
begitu Lembut TUHAN?”

“Yah…Aku membuatnya begitu lembut,tapi engkau belum bisa bayangkan kekuatan yang AKu
berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa?”
“Dia bisa berpikir?” tanya malaikat......
TUHAN menjawab: ” Tak hanya berpikir,dia mampu bernegoisasi......”

Malaikat itu menyentuh dagunya. . . ” TUHAN ENGKAU buat ciptaan ini kelihatnya lelah dan rapuh!
Seolah terlalu banyak beban baginya.....”
” Itu bukan lelah atau rapuh….itu AIR MATA”.... “Untuk apa?”tanya malaikat
Tuhan melanjukan : ” AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,
kegalauan, Cinta, kesepian, penderitaan dan kebahagian
” ENGKAU memikirkan segala sesuatunya.Wanita ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!”
YA Mesti. . . ! Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona bagi laki-laki.
Dia dapat mengatasi beban bahkan laki-laki Dia Mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya
sendiri.

Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.Mampu menyanyi saat menangis, menagis
saat terharu, terharu saat tertawa, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.Dia tidak menolak kalo melihat yang lebih baik.Dia
menerjunkan dirinya untuk keluarganya.Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.

- CINTANYA TANPA SYARAT -
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.Dia girang dan bersorak saat melihat
temannya tertawa.Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.Hatinya begitu sedih saat mendengar
berita sakit dan kematian Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa
sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.....


....” Hanya 1 Kekurangan dari Wanita “....
......DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA......

Jumat, 25 November 2011

Rose, Sarjana Tertua..


Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.

Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku?"Saya tertawa & dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!".Diapun memberi saya pelukan yang sangat erat."Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok.Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.""Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya."Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya.

Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagai pengalaman dan kebijaksanaannya.

Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami.Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami.Dia diperkenalkan dan naik ke podium.Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai.Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon.Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup.Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya.Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

Saat kami tertawa dia membersihkan kerongkongannya dan mulai,"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua; kita menjadi tua karena kita berhenti bermain.Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap bahagia, dan meraih sukses.Kamu harus tertawa dan menemukan humor setiap hari.Kamu harus mempunyai mimpi.Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati.Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun tidak mengetahuinya!"

"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa.Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun.Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal ditempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan.Setiap orang pasti menjadi tua.Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat.Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan. "Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat.Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose".Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu.Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai.

Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan.

Ingatlah, menjadi tua adalah keharusan, menjadi dewasa adalah pilihan. 

Sepotong Kepala Ayam untuk Ayah


Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat istri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening istrinya dan bertanya, 'Mah, udah sholat ashar belum?' Istrinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, 'sudah yah..' Istrinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu istrinya memasak kesukaan sang suami. 'Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah.' Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya.

Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Istrinya bertanya, 'Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak2 paling tidak suka ama kepala ayam.' Suaminya menjawab, 'Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kelapa ayam supaya engkau dan anak-anak mendapatkan bagian yang terenak.' Mendengar jawaban sang suami, Terlihat butir-butir mutiara mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. 'Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangnya.' ucap sang istri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.

Teman, Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil namun memiliki makna yang begitu besar, didalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab sekalipun sesuatu yang kecil itu adalah sepotong kepala ayam. Semoga cerita diatas kita bisa mengambil hikmah dengan mencintai setulus hati keluarga kita. 

Terima kasih Pak Hamid, Kami bangga menjadi murid Bapak.....

Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.

Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu? Berbagaipenghargaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.

Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah. Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.

Kini masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota. Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.

“Hei, jualan jangan melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.

“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat. Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!”* kata pedagang akik di sebelahnya.

“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ? Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik. Bukan di kaki lima seperti ini”.

Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yang sedang dipikirkannya. Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu? Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?

“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.“Saya butuh uang.”

“Apa istri atau anakmu sedang sakit ?”“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”

“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”

“Hei, bukankah kau punya gaji...eh... pensiun maksudku.”“Habis buat nyicil montor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”

Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.“Insya Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yang dapat menghalanginya.”

Siang yang panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yang berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yang meliriknya.

Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yang mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat yang kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.

Sebuah ironi yang sangat pedih. Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagaiguru teladan bertahun yang lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yang dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya. Saat kegetiran dan keputusasaan masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.

“Bapak hendak menjual plakat-plakat ini?” seorang lelaki muda perlente berjongkoksambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yang dikenakannnya dan mobil mewah yang ditumpanginya, ia sepertinya lelaki berduit. Pak Hamid tiba-tiba berharap.

“Ya...ya..saya memang menjual plakat-plakat ini,” jawab Pak Hamid gugup.“Berapa bapak jual setiap satuannya?”

Pak Hamid berfikir,”Berapa ya? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya.”

“Berapa, Pak?”“Eee...tiga ratus ribu.”“Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya ?”

Hah! Dibeli semua, tanpa ditawar lagi! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yang lebih tinggi? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku.

“Apa bapak punya yang lain. Tanda penghargaan yang lain misalnya ...”Tanda penghargaan yang lain? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yang lusuh. Piagam sebagai peserta penataran P4 terbaik, piagam gurumatematika terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai peserta Jambore dan lain-lain piagam yang sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah.

“Bapak kasih harga berapa satu buahnya ?”“Dua ratus ribu.” Hanya itu yang terlintas di kepalanya.

“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di sana itu.” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuahbank yang berdiri megah tak jauh dari situ.“Ya...ya..saya tunggu.” kata Pak Hamid masih tak percaya.

Menit-menit yang berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yang menggoda saja? Pak Hamid pasrah.

Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkusplakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.

Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yang hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yang terbengong-bengong. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.

“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilanganplakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati.

Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yang lain menangis, kehilanganplakat-plakat itu, yang sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya.

Jarak tiga kilometer dan waktu yang terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir.

“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi denganmu? Tadi ada lelaki muda yang mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah.”

Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan...plakat-plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya! Semuanya! Tak ada yang berkurang satu bijipun! Apa artinya ini? Apakah lelaki itu berubah pikiran? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yang diberikannya terlalu mahal.

Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yang diangsurkan istrinya ke tangannya. Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.

Pak Hamid yang saya cintai,Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak.

Gunarto, lulusan tahun 75.

Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yang membasahi pipi Pak Hamid.

sumber : mylink 

Jumat, 21 Oktober 2011

Seperti Secangkir Kopi

Malam ini -meski tidak selarut biasanya, saya masih terhitung lambat tiba di rumah. sehingga menemukan anak saya sudah lelap dibuai mimpi.

'mungkin dia kelelahan, tadi sore main kebut-kebutan sepeda dengan teman-temannya', jelas bunda.

maka selepas mandi, sembari memisah lelah saya memilih duduk di teras depan berteman secangkir kopi panas dan mengobrol dengan bunda. seselesainya, saya berencana meneruskan sisa pekerjaan dari kantor.

pada seruputan yang kesekian, saya mengeluhkan betapa melelahkannya hari-hari belakangan ini.

mendengarnya, bunda hanya tersenyum tanpa menanggapi.

sejenak. dia berucap, 'menurut ayah, berapa berat segelas kopi yang sedang ayah pegang itu?', tanyanya.

saya menggeleng, tetapi menjawab,'tidak sampai seperempat kilo barangkali'. 'kenapa?', sambung saya keheranan.

'kira-kira kalau ayah angkatpegang selama satu menit, ayah bakalan lelah tidak?, jawabnya.

saya menggeleng.

'kalau satu jam?', sambungnya.

'pasti tangan ayah jadi sakit', jawab saya.

'kalau seharian penuh, kira-kira sanggup tidak?', tambahnya.

dan saya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

'barangkali seperti itulah beban. secangkir kopi yang sebenarnya berberat sama, semakin lama kita angkatpegang, makin terasa pula beratnya'.

'bayangkan jika kita membawanya terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. sebab beban itu serasa meningkat beratnya'.

'apa yang sebaiknya kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi'.

'sekaliwaktu kita harus meninggalkan beban kita secara berkala, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi'.

'jadi sebelum pulang ke rumah, tinggalkan saja beban pekerjaan. jangan bawa pulang. akan lebih baik bila kita istirahat dan bersenang-senang'.

'bukankah beban itu dapat diambil lagi besok?'.

menyelesaikan kalimat terakhirnya, bunda beringsut permisi hendak tidur.

sementara saya menekur. dan rasanya ucapan panjang bunda memang ada benarnya. maka saya mengurung niat menerusrampungkan sisa pekerjaan.

hanya saja yang terjadi adalah, bukannya memilih beristirahat, saya justru menyusul bunda tidur, memeluknya hingga 'bersenang-senang' dengan bunda.

dan seperti mengangkat secangkir kopi, satu jam kemudian kami saling kelelahan. namun demikian, malam ini kami merasa bahagia. semoga esok pagi menjadi segar karenanya. 



sumber : http://www.bluefame.com/topic/443531-seperti-secangkir-kopi/

Ikan Beracun

Salah seorang tukang pancing berangkat di pagi untuk mencari rezeki yang halal. Dia melemparkan kailnya ke atas sungai. namun, sudah beberapa lama ia menyimpan kail tidak satupun ikan yang nyangkut. ia berdoa dengan nada sumpah kepada Allah bahwa anak-anaknya berteriak kelaparan di rumahnya. sebentar lagi matahari akan segera terbenam. akhirnya Allah memberikan rezeki, yaitu berupa ikan yang sangat besar. Ia bersyukur kepada Allah SWT. Ia segera mengambilnya dan membawa pulang dalam keadaan penuh rasa bahagia.

Ketika sedang menempuh jalan yang menuju ke rumahnya, tiba-tiba ia bertemu dengan rombongan seorang raja yang sedang jalan-jalan untuk mencari angin segar. Sang raja melihat orang yang membawa ikan tadi dan meminta untuk mendekat. Raja mengetahui bahwa orang tersebut membawa ikan. ia sangat terpesona dengan ikan tersebut. Maka, ia mengambil secara paksa darinya dan dibawa ke istananya. Sang raja bermaksud memberi kejutan kepada permaisurinya. Ia mengeluarkan ikan tersebut di hadapan sang permaisuri dan ikan pun berputar-putar.

Tiba-tiba ikan tersebut menggigit tangan raja. semalam suntuk sang raja tidak dapat istirahat dan tidak bisa tidur. Lalu ia memanggil para tabib kerajaan agar mengobatinya. Para tabib menganjurkan agar jari tangan sang raja dipotong. Maka, jari sang raja dipotong. Namun, tetap saja semalam suntuk dirinya tidakbisa tidur. Racun ikan tersebut telah merasuki seluruh tangannya.

Selanjutnya, para tabib menganjurkan agar tangan raja dipotong. dipotonglah tangan sang raja. Namun, setelah tangannya dipotong pun sang raja tidak dapat beristirahat. Bahkan, ia terus menjerit-jerit meminta tolong. Para tabib menganjurkan agar pergelangan tangannya sampai ke sikut dipotong. Memang, setelah tangannya dipotong sampai pada bagian sikut raja, rasa sakitnya terhenti. Namun, jiwanya tidak merasa tenang karena ia tahu keadaan dirinya yang tidak memiliki satu tangan.

Akhirnya, para tabib menganjurkan agar sang raja berobat kepada ulam ahli penyakit jiwa. Sang raja berangkat menemui seorang ulama ahli jiwa. Di hadapan sang ulama rja tersebut membeberkan kisah ikan yang diambilnya secara paksa dari seorang tukang pancing. Ulama tersebut berkata, “Jiwamu tidak akan kecuali jika tukang pancing tersebut memaafkanmu.” Maka sang raja berupaya mencari tukang pancing yang dirampas ikannya itu. Akhirnya, raja menemukannya. Raja mengadukan masalah penderitaannya dan meminta kepadanya agar mau memaafkannya. Tukang pancing tersebut memaafkan raja sehingga ia merasa tenang. Lalu ia bertanya kepada tukang pancing tadi, “Apa yang engkau katakan untukku, ketika ikanmu dirampas olehku?” Tukang pancing berkata, “Saya tidak mengatakan apa-apa kecuali satu kalimat, “Ya Allah, ia telah melemahkan kekuatanku. Tampakkanlah kekuasaan-Mu kepadanya!” 



sumber : http://www.bluefame.com/topic/453297-ikan-beracun/

Miskin Turki Jadi Jutawan di London - Huseyin Ozer

semoga sepenggal kisah dari para tokoh hebat ini, bisa menjadi pemacu dan bahan pembelajaran bagi kita, untuk tidak mudah menyerah. dan semoga melalui kisah mereka juga qt bisa terinspirasi oleh kegigihan mereka dalam menjalani kehidupan.


Posted Image

Berawal Sebagai Tukang Cuci Piring

perjalanan hidup sang Huseyin Ozer, jutawan London berdarah Turki begitu panjang dan pahit. Lahir di sebuah desa di Turki dari keluarga yang broken home, lebih malangnya lagi, kedua orang tuanya tak mau merawatnya. "Saya ini anak yang tidak dikehendaki" katanya mengeluh.

Ia kemudian dititipkan kepada kakeknya dari pihak ayah. Ketika ingin sekolah saat usianya sudah menginjak tujuh tahun, ayahnya tak mau membiayainya. Ia tak bisa mengandalkan kakeknya yang sudah tua renta. Akhirnya ia gagal sekolah. "Saya belajar menulis di tembok menggunakan arang," ujarnya. Ia lalu menjadi penggembala kambing.

Mengetahui hal ini, ibunya berang. Ia meminta Ozer pergi saja ke kota (Ankara) dan mencari pekerjaan yang lebih baik disana. Saat itu Ozer sudah berusia belasan.Ia pun pergi dengan meminjam uang dari rentenir. Awalnya ia hidup menggelandang. Bahkan jika malam tiba, ia tidur di toilet umum. Nasibnya sedikit berubah
ketika ia diterima bekerja di sebuah bar. Ia bisa menyewa tempat lebih baik, yaitu gudang tempat penyimpanan batu bara, itupun hanya untuk tidur. Yang menarik, ia terobsesi ingin belajar terutama bahasa Inggris. Gaji pertamanya ia belikan buku-buku. Setelah itu ia ikut les bahasa Inggris di Ankara dengan uang yang dikumpulkannya.

Karena bergaul dengan anak-anak jalanan, Ozer terpikirkan untuk mengangkat nasib mereka dengan pendidikan. Dari gajinya yang tak seberapa ia membuat perkumpulan pendidikan anak jalanan. Belakangan perkumpulan itu mendapat banyak perhatian dan dukungan keuangan sana-sini. Karena idenya dari Ozer, lembaga itu kelak bernama Huseyin Ozer Education Trust.

Ia sendiri kemudian pergi ke Istanbul mengikuti wajib militer. Selesai tugas beberapa tahun kemudian, saat usianya menginjak 23 tahun, ia pergi ke London menggunakan bis, untuk memperdalam bahasa Inggris. "saya tak punya uang untuk beli tiket pesawat terbang," katanya. Untuk menyambung hidup ia bekerja di sebuah restoran. Ia memilih menjadi pencuci piring ketimbang pelayan karena bahasa inggrisnya yang belepotan. Namun itu justru menolongnya untuk mempelajari pekerjaan dapur.

setelah itu bekerja sebagai penjual kebab (makanan khas Turki). Lama-lama ia bisa mengumpulkan modal untuk memiliki gerai kebab sendiri. Bahkan melalui ketekunannya ia bisa menyewa tempat berjualan kebab lebih baik. Caranya ia berhemat sampai bisa membesarkan bisnisnya menjadi restoran.

"saya beberapa kali bangkrut. Tapi saya terus mencoba dan mencoba lagi," katanya. Ia tak takut bangkrut, juga tak jemu untuk memulai bisnisnya jika gagal Pilihannya cuma satu, bisnis restoran. Akhirnya ia bisa melahirkan restoran yang lumayan besar. Dan untuk menjadikannya restoran bergengsi, Ozer memperkerjakan
sejumlah ahli makanan dan racikan makanan yang lezat hasil penemuannya selama beberapa tahun. (*)


===

Membalas Masa Lalu dengan Ilmu

Posted Image

Bisnis restoran Ozer sudah mencapai angka belasan di London dan beberapa restoran mitranya. Meski sukses sebagai pengusaha restoran, ia tetap terobsesi menularkan keahliannya dengan berbagai cara. Ia ingat masa kecilnya yang sulit sekolah karena itu ia membalas masa lalunya dengan berbagi ilmu pada semua orang. Ia mengajarkan pada karyawannya bagaimana berbisnis restoran dan mendorongnyaagar kelak menjadi pengusaha. "Banyak mantan karyawan saya yang sudah mahir kembali ke Turki dan membuka restoran disana," katanya. ada juga yang membuka restoran dengan menu yang mirip dengan yang ada di restoran milik Ozer, Sofra. Ia tak takut tersaingi justru merasa bangga. "Saya sudah menciptakan 20-an millionaire," ujarnya senang.

Soal semangat mendidiknya ini kemudian didengar sejumlah unversitas. Universitas di Inggris datang kepadanya untuk belajar kuliner atau berbisnis restoran bagi mahasiswanya. "Saya ikut mendidik di universitas. Tetapi saya tak datang ke universitas, justru universitas yang datang kesini," ujarnya. "Mahasiswa-mahasiswa saya mendapatkan pekerjaan disini, mendapatkan uang juga, dan makannya di restoran," katanya.

Ozer yang tak sekolah akhirnya sukses menjadi pebisnis restoran di London dan diakui dunia. Anak kampung ini berhasil mengembangkan potensinyadari pilihan yang sempit. Ia tak bisa menyesali masa kecilnya yang tak bisa belajar. Ia justru terus maju ke depan menjalani langkah demi langkah yang sulit. "Saya maju karena saya memilih pilihan yang sulit," katanya. Dan belajar itulah senjatanya. Ia belajar dari apa yang ditemuinya. Hal ini yang mengantarkannya hingga kemudian sukses. (*)



sumber : http://www.bluefame.com/topic/458046-miskin-turki-jadi-jutawan-di-london-huseyin-ozer/

Disini Jual Ikan Segar


Seseorang mulai berjualan ikan segar di pasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan” Disini Jual Ikan Segar”. Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya.

“Mengapa kau tuliskan kata: DISINI? Bukankah semua orangsudah tahu kalau kau berjualan DISINI, bukan DISANA?”

“Benar juga!” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata “DISINI”dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN SEGAR”.

Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang jugamenanyakan tulisannya.

“Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?

“Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata “SEGAR”dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN”.

Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan tulisannya: “Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?

Benar juga pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggallah tulisan “IKAN”.

Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya: “Mengapa kau tulis kata IKAN?
Bukankah semua orang sudah tahu kalau ini Ikan bukan Daging?

“Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.



Renungan :
Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Be yourself!
 

Sebutir Kurma Penjegal Doa


Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke Masjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua didekat Masjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma teletak dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.


Empat (4) Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba-tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya, “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan Allah SWT,” kata Malaikat yang satu. “Tetapi sekarang tidak lagi, doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram,” jawab Malaikat yang satu lagi. Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal Adzim”, Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.


Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda, “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua, kemana ia sekarang ?” Tanya Ibrahim. “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu. “Innalillahi wa innaillaihi rojiuun, kalau begitu kepada siapa saya mmeminta penghalalan?”. Lantas Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata Ibrahim setelah bercerita. “Engkau sebagai ahli waris orang tua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”, “Bagi saya tidak masalah, Insya Allah saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas namakan mereka karena mereka mempunyai hak yang sama dengan saya”, “Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu”.


Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui. Biar berjauhan akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim, 4 bulan kemudian Ibrahim bin Adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba-tiba ia mendengar dua Malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap-cakap, “Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain,” “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dan ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.””Oleh sebab itu berhati-hatilah dengan makanan yang masuk ke tubuh kita, sudah halalkah ? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu. 

Jumat, 30 September 2011

APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN?

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”,jawab ibu itu.” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu??Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “
Apakah kamu mau tahu jawabannya??????…
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
 
Note :
Pelajaran Hari Ini : Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN”

Kamis, 15 September 2011

SURAT MENGHARUKAN DARI IBU KEPADA ANAKNYA


Wahai anakku…

surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.

Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.

Wahai anakku…

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.

Wahai anakku…

25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.

Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.

Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.

Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.

Anakku…

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.

Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.

Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.

Wahai anakku…

Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.

Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…

Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.

Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.

Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.

Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.

Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku…

Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.

Yang ibu pinta kepadamu:

Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.

Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.

Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.

Yang ibu tagih kepadamu:

Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.

Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku…

Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…

Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!

Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.

Wahai anakku…

Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…

Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!

Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!

Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!

Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!

Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!

Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!

إن الله يحب المحسنين

Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai anakku…

Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku…

Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.

Wahai anakku…

Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!

Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.

Wahai anakku…

Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:

الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)

Anakku…

Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…

Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)

Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.

Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…

Wahai anakku…

Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…

Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…

Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.

Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.

Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.

Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…

Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…

Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!

Anakku…

Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:

رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)

Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)

Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.

Anakku…

Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…

Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…

Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.

الجزاء من جنس العمل

Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.

الجزاء من جنس العمل

Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.

Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.

Wahai anakmu…

bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…

Anakku…

setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.

Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Dari Ibumu yang merana.

(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)